Selasa, 03 Desember 2019

Lulus Kuliah


Setelah lulus kuliah dan mendapatkan gelar sarjana, seseorang harus segera mencari sebuah pekerjaan atau mungkin melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Di tempatku berasal, semuanya seperti sudah menjadi aturan, karena jika pulang ke rumah maka akan banyak sekali pertanyaan dari tetangga. Kalau seseorang bekerja dan menghasilkan banyak uang maka akan disegani, tapi berbeda jika seseorang yang sudah lulus kuliah namun masih sulit mencari pekerjaan. Keadaan yang seperti itu pasti akan menjadi bahan pembicaraan terutama oleh kalangan ibu-ibu bersuami pekerja yang hanya diam di rumah dan memang memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk menggosip.

Kemarin aku pulang dari kota tempat dimana aku menyelesaikan kuliahku. Sebelum dan sesudah lulus kuliah aku memang sudah bekerja, namun pekerjaanku hanya sebagai pelayan stand makanan. Dari mulai semester enam, aku sudah tidak mendapatkan kiriman uang dari orang tua. Aku bekerja apapun itu untuk bertahan hidup di perantauan sambil menyelesaikan kuliahku. Aku seorang perempuan yang semuanya tahu juga bahwa kebutuhan perempuan sedikit lebih banyak dari laki-laki. Aku bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanku. Sampai setelah lulus kuliah, aku masih bekerja di tempat stand makanan tersebut. Sebelumnya menjadi seorang penjaga stand makanan adalah hal yang biasa, namun kini semuanya seperti berubah ketika aku lulus dari kuliahku.

Wajar saja masa seorang lulusan sarjana hanya menjadi seorang penjaga stand makanan?Sudah sekitar satu tahun aku bekerja di tempat itu. Pemiliknya pun sangat baik. Karena sudah cukup lama bekerja, aku dipercaya oleh bapak dan ibu pemilik untuk mengurus stand tersebut termasuk mengatur barang yang keluar dan masuk. Aku bersyukur memiliki seorang bos yang baik dan mau mengajariku cara berjualan. Tidak lama kemudian aku berfikir bahwa aku harus berdiri sendiri, aku harus berusaha sendiri. Aku pun pulang dengan berbekal sebuah resep yang bapak dan ibu bos ajarkan. Aku sudah siap apapun yang dikatakan ataupun dibicarakan tetangga nanti, aku tetap berusaha dan yakin pada diriku sendiri. Aku sudah banyak belajar dari bapak dan ibu bos, meskipun lulusan sarjana, tapi tetap mau berwirausaha.

Sesampainya di rumah, aku mengutarakan isi hatiku kepada kedua orang tua. Keduanya cukup ragu dan tetap meminta aku untuk merantau dan mencari pekerjaan. Tapi aku tetap mencoba meyakinkan keduanya dan akhirnya mereka setuju dengan rencanaku membuka stand makanan bernama tahu walik, yaitu tahu yang dibalik dan diisi oleh adonan tepung dan daging. Semakin hari semakin banyak juga omongan-omongan tetangga. Ada dari mereka yang menyindir, “Untuk apa kuliah tinggi-tinggi jika hanya akan berjualan tahu. Disini yang lulusan SD pun bisa berjualan tahu”. Perkataan semacam itu sudah aku bayangkan sejak dulu, tapi aku tidak boleh putus asa dan aku pun tetap memanfaatkan ilmu yang aku dapat dari bangku perkuliahan untuk mengajari anak-anak desa belajar bersama.

Jam terus berputar tanda waktu semakin maju. Kini pembeli tahu walikku sudah semakin banyak. Selain membuka stand, aku juga membuka jualan via internet. Penghasilnya sangat cukup untuk membuka toko dan membenahi tempat belajar bersama. Hingga beberapa waktu kemudian, aku juga membuka tempat bimbingan belajar. Toko tahu walik aku serahkan pada karyawan kepercayaanku. Sesekali aku mengingat bagaimana dulu bapak dan ibu bos mempercayakan usahanya padaku sehingga aku bisa belajar dan akhirnya memiliki usaha sendiri. Sesekali aku mengunjungi kota dimana aku bekerja dahulu. Aku menceritakan semuanya kepada bapak dan ibu bos. Mereka pun bangga padaku.

mati suri


Menjadi seorang pedagang sayur adalah pekerjaan yang sangat dekat dengan dunia ibu rumah tangga karena hampir semua pembeli sayur keliling adalah ibu-ibu. Seorang pedagang sayur harus memiliki keterampilan berbicara yang hebat, terlebih ketika bertemu denga pelanggan yang memiliki hobi tawar menawar. Didin, seorang pedagang sayur keliling dengan gerobag yang ditarik oleh sepeda motor yang berasap tebal itu biasa berjualan di depan Paud Mutiara Baru. Sasaran Didin adalah ibu-ibu yang mengantar dan menunggu anak-anaknya sampai jam sekolah selesai. Tidak sampai waktu dhuhur, anak-anak sudah diperbolehkan pulang.

Di sela waktu menunggu itu, suara Didin terdengar nyaring, “Sayuuuuuuuuurrrr, yuur sayuuuur” banyak ibu-ibu yang mulai mendekati gerobag Didin. Mereka memilih berbagai sayuran yang tersedia sambil berusaha menawar semurah-murahnya, tapi Didin dengan kekuatan berbicaranya harus berusaha apapun agar harga jualannya tetap seperti yang tawarkan. Seringkali Didin digoda oleh ibu-ibu yang akan mendoakan agar mudah dapat jodoh jika mereka mendapat potongan harga. Namun Didin tetap pada pendiriannya.

Masalahnya jika saya jual murah akibatnya penghasilan saya akan jadi sedikit dan semakin lama menabung untuk menikah, begitu ibu-ibu”“Yailah, Didin pelit amat”Didin selalu menjadi hiburan bagi ibu-ibu karena tingkah lucunya yang serigkali membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal. Terlebih karena Didin adalah bujangan tua yang belum juga menikah. Mungkin Didin takut juga jika kelak istrinya seperti para pelanggan sayurnya yang cerewet itu. Hari berikutnya Didin tidak terlihat berjualan di depan Paud Mutiara Baru. Para pelanggan setianya bertanya-tanya mengapa Didin tidak berjualan. Hari itu mereka mengeluh karena harus pergi ke pasar untuk berbelanja sayur.

Walaupun harga di tempat Didin sedikit lebih mahal, namun bagi mereka itu tidak masalah karena mereka tidak harus mendadak pergi jauh ke pasar. Selain itu, di tempat Didin mereka bisa saling bercanda menggoda, dan mengejek Didin untuk sekedar menghilangkan penat menunggu anak-anak pulang sekolah. Lima hari telah berlalu, Didin masih tidak tampak berjualan. Ibu-ibu semakin bertanya-tanya. Beberapa dari mereka berfikir Didin tidak mau lagi berjualan di tempat itu dikarenakan pelanggan yang selalu saja menawar, mengejeknya, dan kadang juga pergi meninggalkan hutang. Di tengah rumpian ibu-ibu terdengar bahwa Didin meninggal dunia namun tidak ada penjelasan meninggal karena apa.

Para pelanggan tersebut bersedih akan kepergian Didin. Ada beberapa dari mereka yang menyesal pernah mengejek Didin. Ada juga yang takut karena belum sempat membayar hutang. Mereka saling berandai-andai satu sama lain jika Didin masih hidup maka mereka tidak akan mengejek  dan akan segera membayar hutangnya.Satu minggu kemudian, di hari senin yang cerah, setelah siswa-siswa usai melaksanakan upacara bendera, ibu-ibu kembali ke warung samping paud untuk melakukan aktifitas rutinnya. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara motor Didin. Mulanya mereka kaget, namun paling hanya suara motor yang mirip saja.

Motor tersebut tiba-tiba berhenti dan terdengar keras suara, “Sayuuuuuuuuuuuuuuuuuuuurrr yuuuurr sayuuuuurrrr”. Seketika ibu-ibu kaget, berdiri, dan melihat ke arah seberang. “Didiiiiinnnnnnn” mereka semua shock akan munculnya Didin lagi. Padahal Didin sudah dikabarkan meninggal dunia. Mereka semua berlari menuju gerobak sayur milik Didin sambil penasaran dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada Didin?Didin menjelaskan bahwa dirinya mengalami mati suri. Ketika pulang berjualan, Didin merasa badannya lemas sekali. Ia tidur dilantai dengan kipas angin yang dihadapkan ke tubuhnya. Tidak lama dari itu Didin tertidur pulas dan  sulit dibangunkan oleh ibunya. Hingga waktu yang lama sekali Didin tak kunjung bangun, ibunya berteriak meminta tolong kepada tetangga.

Salah satu tetangga yang mengecek nadi dan hidungnya mengatakan bahwa Didin sudah meninggal dunia. Ibu Didin menangis sejadi-jadinya setelah tahu anak semata wayangnya dan tulang punggung keluarganya meninggal dunia. Jenazah segera diurus, namun ketika dimandikan tiba-tiba mata Didin membuka dan tangannya mengusap wajahnya sendiri. Semua keluarga sempat kaget dan lari terbirit-birit. Didin yang menggunakan selendang penutup badannya berjalan ke depan. Seketika semuanya pun terkaget dan berlarian kesana kemari. Didin menjerit dan menangis mengatakan bahwa ia masih hidup. Akhirnya semua orang percaya bahwa Didin mengalami mati suri. Selama satu minggu Didin tak keluar rumah, ia beristirahat dengan total dan kini berjualan kembali. Ibu-ibu pelanggan setia Didin segera melunasi semua hutangnya dan sama sekali tidak menawar harga ataupun mengejek Didin lagi.

Kona dan Koni


Setelah di phk dari pekerjaannya sebagai marketing properti, Kona dan Koni sibuk mencari pekerjaan baru, kebetulan di kota Jogja tidak begitu sulit untuk mendapatkan pekerjaan sampingan mulai dari mengikuti berbagai pekerjaan part time dan survei dari sebuah lembaga. Empat hari yang lalu, Kona dan Koni mengikuti survei untuk mensosialisasikan beberapa materi yang diberi oleh lembaga. Sepulang dari survei tersebut mereka mulai pusing kembali mencari kesibukan. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berekreasi sejenak sambil memikirkan pekerjaan apa yang kiranya pas di hati mereka, karena sebelumnya mereka berdua sudah diterima di sebuah perusahaan, namun sayangnya mereka mendapati sistem gaji yang tidak sesuai dan tekanan yang terlalu berat dari atasanya.

Kona dan Koni adalah dua sahabat yang baru saja bertemu namun seperti sudah lama mengenal. Sifat mereka juga sangat kontra, Kona yang penyabar dan Koni yang selalu mau menang sendiri. Setelah beradu pendapat akan apa yang mau dikerjakan, Kona dan Koni memutuskan untuk pergi ke rumah Nuha di Magelang. Mereka hendak melakukan rekreasi dan akan mengunjungi tempat-tepat indah yang berada di kota tersebut. Setelah setengah hari Koni menemani Kona berbelanja baju untuk Ibunya yang berada di kampung, ia mengabari Nuha teman Koni yang kebetulan tinggal di Magelang untuk menemani rekreasi di Magelang.

Setelah itu Kona dan Koni beristirahat menyiapkan tenaga untuk berangkat ke Magelang sore nanti.  Nuha pun sudah mengirimkan alamatnya via google map, perjalanan tinggal mengikuti arah yang ditunjukkan oleh goolge map saja.Sore itu Kona dan Koni mandi, bersiap-siap, dan tidak lupa menyiapkan jas hujan karena langit sedikit gelap. Mereka pun memanasi sepeda motor dan pergi dengan cuaca langit yang mendung. Jarak Jogja ke Magelang pun tidak terlalu jauh, kira-kira hanya satu setengah jam. Kona melarang Koni untuk membuka google map terlebih dahulu karena Kona sudah sedikit paham arah jalan menuju Magelang dan setidaknya untuk menghemat baterai agar bisa digunakan maksimal untuk mencari arah rumah Nuha ketika sudah sampai di Magelang.

Setibanya mereka di Magelang Kona meminta Koni untuk membuka map nya “Koni, kita udah sampe nih di Magelang, coba kamu buka google map nya”, “Ok Kona, tapi Kona, aku ga bisa baca google map”, “Yah gimana dong Koni, yaudah kamu yang di depan ajah”, “Lah kan kamu tau aku pakai rok”, “Ih Koni, kamu nyebelin sih, hiiih, yaudah mana hp nya”. Akhirnya Kona harus bekerja sendiri membawa motor dan melihat arah di google map dan ketika dilihat, perjalanan memang masih sangatlah jauh. Langit mulai gelap, adzan maghrib sudah berkumandang, namun Kona dan Koni masih dalam perjalanan yang kanan dan kiri hanya ada pepohonan bambu dan tidak ada penerangan.

Saat itu, Kona  dan Koni mulai beradu pendapat lagi. “Koni, seharusnya tadi kamu percaya sama aku, kita perginya besok pagi saja. Lihat sekarang pun kita belum juga sampai dan langit semakin gelap”, “Ah sudahlah Kona, kamu ini banyak sekali ngomongnya. Ikuti saja arah ini”, “Bukan begitu, ini sudah malam dan dari tadi sepertinya tidak ada rumah sama sekali deh di daerah sini”, “Ah udahlah terus aja, nanti juga ada rumah di depan”. Langit semakin gelap dan keadaan di sekelilingpun tidak terlihat lagi. Koni mencoba menghubungi Nuha, tapi sayang sekali di daerah tersebut memang sedikit sinyal. Nuha hanya membalas untuk memberi kabar nanti jika Kona dan Koni sudah berada di jalan utama.

Mereka berhenti sejenak di tengah jalan, yang terlihat oleh sorot lampu motor mereka hanyalah pohon-pohon yang berada di samping kanan dan kiri. “Sudahlah, ayo lanjut lagi jalan” seru Koni. Di tengah jalan, mereka mendapati seorang pemuda yang duduk di dekat jembatan. Kona dan Koni merasa lega karena akhirnya ada seseorang yang bisa ditanya, “Permisi mas, numpang tanya, kalau jalan ke arah jalan utama lewat mana ya?”. Orang tersebut tidak menjawab, namun tanggannya memberi petunjuk ke arah kiri. Di depan memang terlihat ada gang masuk ke arah kiri. Akhirnya merekapun berjalan mengikuti arahan orang tadi.

Sesungguhnya Kona tidak terlalu yakin kalau jalan yang dilalui adalah benar, namun Koni memaksa saja untuk berjalan lurus mengikuti arahan orang tadi. Kona akhirnya menyerah dan mengikuti pendapat Koni. Perjalanan tetap saja gelap dan tidak ditemukan ujungnya. Mereka pun berhenti lagi. Kona mulai marah dan meminta Koni untuk mengikuti pendapatnya kali ini saja. Akhirnya Koni diam dan Kona memutar motor untuk kembali ke jalan yang sudah dilalui dan mencari jalan lain.Setelah beberapa menit, akhirnya Kona dan Koni menemukan perumahan warga dan tibalah di jalan utama. Merekapun bertemu dengan Nuha. “Ya ampun Ha, akhirnya kita ketemu kamu lhoo” teriak Koni, namun Kona tetap saja diam.

Kona masih menahan rasa dongkolnya karena Koni yang tidak pernah mau menerima pendapatnya. Sesampainya di rumah Nuha, mereka menceritakan kejadian tersesat mereka. Setelah berbincang-bincang dengan Nuha dan orang tuanya tentang jalan mana yang dilalui. Nuha dan orang tuanya kaget, “Lho, kalian lewat jalan itu?”, “Iya bu” jawab Kona “Itu kan area pemakaman nak”. Seketika Kona dan Koni berpandangan dan masih tidak percaya. “Besok pagi kalian coba saja lewat jalan itu dan liat disitu ada apa”. Pagi-pagi sekitar jam tujuh mereka ingin membuktikan apa yang dibilang oleh Ibunya Nuha. Sesampainya disana, mereka berdua melotot melihat hamparan tanah pemakaman yang luas sekali. Koni pun merasa bersalah, akhirnya ia meminta maaf pada Kona, “Maafkan aku Kona, gara-gara aku semalam ternyata kita tersesat di pemakaman”, “Iya Koni, lagi-lagi jangan maunya menang sendiri, dengarkan juga pendapat orang lain ya” dan tiba-tiba mereka berdua ingat akan seseorang yang duduk di atas jembatan, “aaaaaaaaaaaa hantuuuuu” seketika itu mereka berteriak.

Laki-Laki Beruntung


Tora adalah seorang laki-laki yang beruntung. Usai lulus kuliah, ia diterima menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS). Tora lahir di dalam keluarga yang berkecukupan. Tidak seperti teman-teman yang lainnya yang masih mencari-cari pekerjaan. Tora sudah bisa membahagiakan dirinya dan orang tua. Terkadang Tora juga membantu adiknya yang masih kuliah. Kini, Tora tinggal di Jakarta. Satu bulan sekali ia pulang mengunjungi orang tua di Cilacap dan kekasihnya di Yogyakarta. Di umurnya yang semakin tua, Tora juga ingin segera mungkin menikah. Berulang kali Tora mengajak kekasihnya untuk menikah, namun kekasihnya masih menolak dan meminta Tora untuk menantinya sampai selesai kuliah.

Selain karirnya yang sukses, Tora memiliki kekasih yang cantik, pintar, dan patuh kepada kedua orang tua. Kekasihnya juga berasal dari keluarga pengusaha sukses. Kini, kekasihnya sedang melanjutkan studinya di tingkat sarjana dan meminta Tora untuk sabar menanti. Tora yang tak sabar lagi karena teman-teman yang lain sudah menikah, terus mendesak kekasihnya untuk segera menikah. Namun sang kekasih tetap pada pendiriannya. Orang tua memintanya untuk menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu. Tora pun hanya bisa bersabar dan bersabar.Beberapa bulan kemudian, sang kekasih telah diwisuda. Ia telah menyelesaikan studinya. Tora pun menanyakan kembali padanya tentang keinginannya untuk menikah.

Tapi sayang, orang tua sang kekasih meminta anaknya untuk melanjutkan studinya kembali untuk mendapatkan gelar master. Tora semakin tak sabar dan semakin mendesak kekasihnya untuk membicarakan semuanya kepada orang tua.“Ayo dong, bilang sama papah dan mamah. Menikah itu disegerakan. Lanjut kuliah setelah menikah juga bisa kok”“Iya yang, sabar. Aku juga tau. Tapi kan ini permintaan papah. Aku juga ga mungkin nolaknya”“Maka dari itu bilang dong”Tora mulai kesal karena sikap kekasihnya yang tak kunjung memberanikan diri untuk membicarakan pernikahan dengan orang tuanya. Karena kebingungan yang melanda dalam dirinya, sang kekasih mengikuti banyak kajian-kajian pra nikah di kampusnya.

Ia mendapatkan banyak ilmu, salah satunya adalah tidak perlu pacaran untuk menikah. Setelah mengutarakan isi kajian itu kepada Tora, Tora semakin kesal dan ingin segera mengakhiri semuanya.
Sebulan kemudian, karena tidak ada penjelasan dari sang kekasih. Tora mulai bebas bermain dengan siapapun. Kekasihnya melihat foto Tora yang diposting oleh salah satu teman wanitanya. Kekasihnya pun marah dan meminta penjelasan kepada Tora.“Tega banget kamu, aku disini belajar menjaga hati. Tapi ternyata kamu main dibelakangku”“Kamu bisa mikir nggak? aku selama ini ngajak kamu menuju kebaikan, menikah. Tapi kamu selalu menolak. Kamu sadar nggak sih aku sudah semakin tua.

Aku malu sama teman-teman”“Oke, aku bilang sama orang tua”“Ya, aku janji akan datang kerumah untuk melamarmu”Kekasih Tora semakin bingung dan gelisah. Ia merasa sakit hati karena dibohongi. Tora bermain api di belakangnya. Tapi, ia juga sadar semua ini juga dikarenakan kesalahannya sendiri yang tak berani mengutarakan keinginannya kepada orang tua. Kekasih Tora yang bingung itu akhirnya mengutarakan semuanya, awalahnya sempat ditentang oleh kedua orang tuanya. Namun, ia mencoba menjelaskan bahwa pernikahan adalah hal baik yang harus segera dilaksanakan agar tidak melulu timbul fitnah. Akhirnya kedua orang tua itu luluh dan menerima Tora sebagai menantunya.
Tora datang ke rumah sang kekasih bersama ayah dan ibunya.

Ia berkata baik-baik bahwa ia ingin mempersunting kekasihnya. Tora tidak melarang sang kekasih untuk tidak menyelesaikan sekolahnya. Acara tunangan pun dilaksanakan dengan cara bertukar cincin. Akhirnya Tora dan kekasihnya menikah dan menjadi pasangan yang halal. Kekasihnya yang cantik dan taat kepada agama sudah menjadi milik Tora seutuhnya. Tapi keduanya harus hidup berjauhan. Tora yang bekerja di Jakarta dan istrinya yang melanjutkan studinya di Yogyakarta. Jarak tidak menghalangi mereka untuk bertemu. Waktu selalu bisa diatur, setiap dua minggu sekali Tora pergi mengunjungi sang istri atau sebaliknya. Sebagai seorang laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, Tora dihadiahi sebuah rumah dan mobil oleh mertuanya. Tora tetap menjadi seorang laki-laki yang beruntung.

Laki-Laki Payah


Agung adalah seorang laki-laki yang ditakdirkan untuk menjadi anak kesayangan orang tuanya. Dua kakak perempuannya sudah hidup masing-masing bersama suaminya. Sebagai anak bungsu, Agung sangat disayangi oleh ayah terlebih oleh ibunya. Sang ayah yang sangat patuh kepada istrinya hanya bisa menuruti kehendak sang istri. Sang ibu selalu memanjakan Agung, ia diberikan fasilitas yang lengkap di rumahnya. Di kamarnya tersedia televisi, ac, hp, dan deretan rak buku. Agung memiliki hobi membaca komik. Waktunya setiap hari hampir habis digunakan hanya untuk membaca komik. Sang ibu selalu mendukung hobinya itu dan melarang Agung untuk bermain dengan orang satu kampungnya.

Sang ibu merasa bahwa Agung tidak pantas bermain dengan orang-orang itu. Agung hanya diperbolehkan bermain dengan teman-teman kuliahnya saja. Sang ibu menganggap orang-orang kampung itu tidak berpendidikan. Akibatnya Agung tumbuh menjadi seorang laki-laki yang kurang bisa bersosialisasi dengan sesama.Agung tidak pernah diajari bagaimana hidup mandiri. Baju sudah ada yang mencuci, rumah sudah ada yang merapihkan, makan pun harus diantar sampai ke kamarnya. Aktivitasnya di rumah hanya untuk belajar saja. Bahkan sebagai seorang anak laki-laki, Agung tidak bisa mengendarai sepeda. Kemanapun pergi Agung selalu diantar. Hidupnya tidak pernah merasa susah.

Apa yang diinginkan selalu terpenuhi. Terlebih lagi ibunya yang sangat memanjakannya. Oleh tetangga, Agung dikenal sebagai anak yang acuh dan tidak bisa bergaul dengan sesama. Hidupnya hanya dihabiskan untuk belajar, belajar, dan belajar. Suatu hari setelah kelulusannya, sang ibu berharap besar Agung mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Sang ibu berharap Agung akan menjadi seorang yang sukses berkat nilai akhir kuliahnya yang tinggi. Ia merasa akan diterima di perusahaan-perusahaan besar dengan mudah. Ia pun semangat mengirimkan banyak surat lamaran pekerjaan melalui kantor pos dan surat elektronik. Namun, semuanya di luar dugaan. Tidak ada satupun dari perusahan yang memanggilnya untuk wawancara.

Hal itu disebabkan karena dalam daftar riwayat hidupnya sama sekali tidak ada pengalaman bekerja atau mengikuti organisasi apapun. Ia merasa lelah dan berputus asa. Orang tuanya kini telah pensiun dan hanya sedikit sekali simpanan uang karena yang ada telah dipakai sang ibu untuk pergi belanja bersama teman-teman sosialitanya. Penghasilan ayahnya sudah tidak seperti sebelumnya. Sang ibu yang biasa hidup serba ada menjadi kecewa, marah, dan akhirnya pergi meninggalkan rumah. Kini Agung harus hidup berdua dengan ayahnya.Suatu ketika ada sebuah panggilan kerja dari perusahaan yang bertempat di luar kota. Agung yang tinggal di Jakarta harus pergi merantau ke Semarang.

Agung merasa bingung dan gelisah. Ia tidak berani pergi sendiri karena memang tidak pernah memiliki pengalaman bepergian sendiri. Alhasil sang ayah mengantarkannya ke Semarang. Sesampainya di sana, Agung kembali ke Jakarta dan mendapati kabar bahwa perusahaan tersebut tidak menerima dirinya sebagai karyawan. Agung kembali merasa kecewa dan tidak ingin lagi untuk mencari pekerjaan. Waktunya kembali dihabiskan membaca komik di kamar. Sang ayah yang semula bekerja di perusahaan elektronik mulai menerima panggilan-panggilan orang untuk membetulkan alat-alat elektronik yang rusak. Rumah menjadi tidak terawat. Sang ibu masih enggan untuk kembali. Kedua kakak perempuannya sibuk juga dengan keluarganya masing-masing.

Sang ayah terus bekerja sembari tak henti-hentinya memikirkan nasib anak laki-lakinya yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Umurnya semakin bertambah namun tetap seperti itu-itu saja hingga ayahnya sering merasakan pusing dan terjatuh di kamar mandi. Sang ayah menderita struk. Kakinya tidak bisa digerakkan. Beliau harus memakai kursi roda. Sang ibu tetap enggan kembali, bahkan meminta untuk bercerai. Agung yang menjadi kebanggaan ibunya itu tidak tau harus berbuat apa dan meminta tolong kepada siapa. Orang lain dan keluarga yang lain sudah enggan menolong Agung yang acuh itu. Kedua kakak perempuannya hanya bisa membantu seadanya. Agung pun benar-benar harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan sang ayah. Kini ia memiliki pekerjaan yang sesuai sebagai penjual komik bekas di pinggiran jalan.

Kau dan Aku Tak Akan Berpisah


Hari minggu adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang. Hari minggu merupakan hari sebagian orang untuk beristirahat, berekreasi, dan berkumpul bersama dengan keluarga. Tapi hari minggu kali ini adalah hari berduka bagi keluarga kecil ibu Romlah. Anak perempuan satu-satunya meninggal dunia karena jatuh dari sepeda. Wajahnya terperosok di bebatuan pinggir jalan. Darahnya terus mengalir dari gusi di mulutnya. Ibu Romlah dan suami membawa Risa ke rumah sakit. Dua hari sejak jatuh Risa tak sadarkan diri. Tisa teman bermainnya menjenguk dengan membawakan sepaket mainan bola bekel.

Malamnya di hari ketiga, Risa bangun dan meminta orang tuanya untuk memanggil Tisa. Risa mengajaknya untuk bermain bola bekel yang dibawanya. Mereka berdua bermain sampai larut malam hingga orang tua Risa memperingatinya bahwa hari sudah hampir pagi. Ketika pagi datang, keluarga Risa mengabari jika rumah sakit sudah tidak mampu lagi untuk menangani pendarahan di gusi Risa. Mereka pun segera membawanya ke rumah sakit di kota dengan ambulanPagi itu sebelum jatuh dari sepeda, Risa dan Tisa pergi berdua mengunjungi pasar. Mereka membeli sebuah jajanan pasar bernama awug.

Makanan terbuat dari tepung dan ampas kelapa. Sesudahnya, Risa dan Tisa kembali mengayuh sepeda. Risa yang mengayuh sepeda di depan dan Tisa memboncengnya dengan berdiri di belakang. Di jalan yang menurun, mereka bersiap-siap untuk berteriak lantang dengan roda sepeda yang berputar cepat di jalan turun itu. Seketika Risa melepas tangannya dari sepeda, ban bagian depan terlegincir oleh jalan yang berkerikil sehingga sepeda terjatuh dan Risa terpelanting pada tumpukan bebatuan di sisi jalan. Sementara Tisa sudah jatuh duduk sebelum Risa. Beberapa orang di sekitar berlari menolong mereka dan Risa sudah tak sadarkan diri.

Di hari jumat yang cerah, Tisa berangkat ke sekolah tanpa Risa. Sepi menyelimuti perasaannya. Berjalan melalui tempat kejadian itu, Tisa berlari tak kuat mengingatnya. Terlebih ketika Risa tak sadarkan diri dengan darah yang berkucuran dari mulutnya. Sesampainya di sekolah, ia mendengar pengumuman dari wali kelas.“Pengumuman, pengumuman. Innalillahi wa innailaihirajiun, telah meninggal murid, teman, dan sahabat kita Risa Fajarsari pada pukul 08.00 WIB di rumah sakit. Bagi guru dan murid yang akan ta’ziah. Kita bisa berangkat bersama-sama. TerimakasihSeketika Tisa berlari, ia tak menunggu kawan yang lainnya. Ia menangis tersedu-sedu mengingat Risa sahabat karibnya telah tiada.

Tisa masih tidak percaya, ia terus berlari dengan kencang menuju rumah Risa. Benar saja, dari kejauhan sudah tampak bendera putih tanda lelayu. Tangisnya semakin menjadi. Sesampainya disana ia menemui sang ibu dan memeluknya erat,“Sudah, ikhlaskan Risa ya, semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT” “Tidak bu, aku masih ingin bermain bersama Risa. Risa bilang ia akan sembuh”“Sabar ya nak..sabar”Tisa memandang haru wajah Risa yang mulai tak lemas lagi. Banyak keluarga datang untuk turut serta memandika dan mengantarkan jenazahnya. Tak ketinggalan Tisa yang turut ikut ke pemakaman.

Seminggu berlalu, Tisa masih saja teringat akan Risa. Setiap malam Tisa sering menangis dan menyebut nama Risa di dalam tidurnya. Orang tuanya khawatir, badan Tisa juga berkeringat dan panas hingga kejang-kejang dan dibawanya ke rumah sakit. Setelah diperiksa, dokter mendiagnosa Tisa yang terkena demam berdarah. Keadaannya semakin mengkhawatirkan hingga dokter tidak mampu untuk merawatnya. Tisa sama-sama dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan Risa. Sayangnya sebelum sampai di rumah sakit, Risa meninggal dunia. Tangis keluarga pun pecah. Tisa dimakamkan tepat di samping makam Risa.

Kehilangan Keduanya


Usai bel pulang sekolah berbunyi, Seni dan Azika berjalan bersama menuju tempat parkir motor. Tiba-tiba dari lorong kelas di depan mereka mendapati seorang laki-laki  berbadan tinggi keturunan cina bernama Beni berjalan menuju tempat yang sama dengan mereka. Azika menarik lengan Seni dengan tiba-tiba,“Hust, itu lho yang namanya Beni”“Yang kamu ceritain itu Az? wah cakep ya Az?”“Iya dong, aku mau banget jadi pacarnya”“Udah kenal belom kamu sama Beni?”“Belum sih, tapi aku udah dapet nomernya dari temanku”“Ya tinggal di sms aja langsung”“Aduh belum berani Sen..”

Beni, siswa baru dan tampan itu banyak sekali yang mengidolakan. Selain tampan, ia juga keren. Ketika berangkat ke sekolah, Beni membawa motor yang keren. Setiap lewat di depan gerbang sekolah, bagitu banyak siswa perempuan yang memperhatikan. Beni selalu menjadi pusat perhatian di sekolah. Azika terlalu sering memperhatikan Beni. Tapi, ia tak pernah mau mengutarakan perasaanya. Maka dari itu, Azika memberi tahu Seni tentang Beni. Namun sayang, Seni adalah seorang siswi yang tomboy dan cuek. Seni hanya fokus pada mata pelajaran di sekolah. Bahkan ia tidak pernah dekat dengan teman laki-laki.

Tapi, untuk kali ini Seni terlihat berbeda. Ia menatap Beni dengan tatapan yang tidak biasa. Tidak seperti menatap teman laki-laki yang lain. Seni mulai sering mencari-cari Beni ketika bel istirahat berbunyi. Azika sering mengajaknya duduk di depan kelas menunggu Beni lewat berjalan menuju kantin. Seni yang biasanya tidak suka duduk-duduk di depan kelas pun menjadi mau dan sering sekali akhir-akhir ini. Di rumah, Seni menjadi sering membuka facebook. Ia mencari nama Beni dan menemukannya. Ia semakin sering melihat-lihat status dan foto-foto Beni sampai akhirnya menemukan kontak nomor Beni.

Seni segera menyimpannya. Ia sangat penasaran dan ingin sekali mengiriminya pesan singkat. Seni sama sekali tidak memikirkaan perasaan Azika yang juga menyukai Beni.“Hallo, Ini bener Beni?”“Iya, siapa ni?”“Seni, anak kelas XD. Salam kenal ya”“Seni yang mana ya?”“Tadi aku udah invite facebook kamu kok, konformasi ya Ben..”“Oh iya, sipp”Setelah itu Seni mulai sering berkirim pesan tanpa sepengetahuan Azika. Mereka pun akhirnya saling kenal satu sama lain. Tiba-tiba pada jam sekolah Beni melihat Seni sedang bersama Azika dan Beni menyapa,“Hai Seni..” “Hai Ben”Azika bingung dengan yang dilihatnya, “Kok kamu kenal sama Beni sih Sen? Kenal dari mana.

Seni mulai bingung dan mencoba mengarang cerita,“Kenal di facebook kok. Kita ternyata berteman di facebook”Azika terlihat semakin bingung, ia terlihat tidak percaya. Azika cemburu pada Seni. Azika berfikir Seni akan merebut Beni yang sedang menjadi incarannya. Azika pergi meninggalkan Seni. Ia tak menyangka Seni akan mengkhianatinya.Azika mulai mencari tahu dengan langsung bertanya pada Beni dan jawabannya pun karena Seni yang meminta Beni untuk berteman di facebook. Azika semakin cemburu dan marah pada Seni. Ia tidak mau lagi bermain dengan Seni di sekolah. Seni pun mulai sibuk dengan rencananya. Mereka semakin jarang bertemu dan saling menyapa.

Setelah sebulan lamanya, karena tidak kuat menahan perasaan, Seni akhirnya mengutarakan perasaannya bahwa ia menyukai Beni dan ingin menjadi pacarnya. Namun, ternyata Beni menolak. Beni sangat menghargai Seni karena sudah berani mengutarakan perasaannya. Beni beralasan bahwa dia sudah terpikat oleh perempuan lain. Seni merasa sedih, ia kehilangan Azika dan ditolak pula oleh Beni.Seni terus mencari-cari siapa perempuan yang menjadi pacar Beni. Beni tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan di sekolah, bahkan di sosial medianya pun tidak pernah memajang foto pacarnya. Seni semakin penasaran, ia ingin mencurahkan isi hatinya kepada sahabatnya Azika, namun saat ini Azika sudah menjauhi Seni.

Akhirnya Seni pendam sendiri rasa penasaran itu hingga akhirnya Seni melihat dengan mata kepalanya sendiri. Di sebuah kafe, Beni duduk berdua dengan perempuan yang ternyata Seni juga mengenalnya. Dia adalah Azika. Dari kejauhan Seni mengawasi dan mendengarkan perbincangan di antara kedunya. Beni memegang tangan Azika sambil berkata, “Azika, maukah kamu menjadi pacarku?” Dengan malu-malu Azika menjawabnya, “Iya”. Seketika Seni cemburu, ia hanya bisa berdiam diri dan menyadari betapa jahat dirinya dulu mengkhianati Azika yang sudah memiliki perasaan lebih dulu kepada Beni.

Kuliah Kerja Nyata


Salah satu masa yang terkadang sulit dilupakan oleh mahasiswa adalah masa-masa kuliah kerja nyata atau biasa disebut KKN. Para mahasiswa akan dipertemukan oleh sistem yang ada di kampus. Dalam satu kampus mereka akan dikelompokkan untuk ditempatkan di tempat-tempat tertentu. Mereka yang datang dari berbagai fakultas dan jurusan yang berbeda dituntut untuk tinggal dalam satu rumah, membuat program kerja yang bertujuan untuk membantu mengembangkan tempat dimana mereka tinggal, dan pastinya mereka akan lebih sering bertemu langsung dengan warga saat menjalankan program yang direncanakan.

Dian seorang mahasiswa fakultas ilmu budaya sudah mengemasi barang-barang yang hendak dibawa ke tempat KKN. Dian dan sembilan temannya diberi waktu dua bulan untuk menyelesaikan KKN tersebut. Dian dan kelompoknya mendapatkan tempat yang lumayan masih pedesaan, sehingga mudah bagi mereka untuk menjalankan program kerjanya. Berbeda dengan di kota yang masyarakatnya sudah maju dan lebih individu. Di desa masih banyak dijumpai warga yang saling bergotong royong. Kebanyakan dari mereka pun bekerja sebagai petani. Tidak hanya masyarakat yang sudah tua saja, mereka para pemuda dan pemudi desa pun sangat antusias akan kedatangan mahasiswa KKN.

Para pemuda dan mahasiswa akan bekerja bersama, biasanya pemuda akan membantu menyediakan apa yang dibutuhkan mahasiswa untuk berjalannya program yang ada. Bahkan tidak jarang dijumpai mahasiswa KKN  yang akhirnya memiliki hubungan khusus dengan pemuda desa.Setelah satu bulan lebih berada di tempat KKN, Dian dan kelompoknya semakin mengenal satu sama lain dan semakin akrab. Bahkan perasaan sungkan pun semakin lama semakin pudar karena memang mereka tinggal dalam satu atap yang sama dan selalu bersama kemanapun pergi. Mahasiswa putri tidur dalam kamar yang sama, sementara mahasiwa yang laki-laki terkadang tidur dimanapun mereka suka. Ada yang tidur di kamar dan ada juga yang tidur di ruang tengah.

Tak jarang juga pemuda yang sudah akrab pun sering mengunjungi tempat tinggal mereka yang sering disebut posko KKN.Dian yang merupakan sekretaris di kelompoknya sangat sering bertemu langsung dengan salah satu pemuda desa yang aktif di karang taruna. Pemuda itu bernama Enca. Dia adalah keponakan pak kadus. Maka dari itu Dian sangat sering bertemu Enca untuk menanyakan data-data yang dibutuhkan dalam pembuatan laporan program kerja. Enca pun selalu dengan semangat membantu Dian karena Dian adalah perempuan yang cantik dan sangat mudah bergaul. Maka dari situlah sebuah keakraban terjalin.

Mereka mulai sering keluar bersama dan bahkan makan bersama sampai akhirnya Enca dan Dian mulai menjadi bahan ejekan teman yang lain. Enca terlihat sangat menikmati kedekatannya dengan Dian tanpa tahu jika sebenarnya Dian sudah memiliki kekasih. Begitupun juga dengan Dian, lama tidak pernah berjumpa dengan kekasihnya dan selalu mendapatkan perhatian dari Enca, akhirnya ia luluh dan semakin dekat dengan Enca. Banyak sekali cerita yang mereka buat bersama. Mulai dari jalan berdua mengelilingi desa dan Enca yang selalu menghibur Dian dikala sedih dan sepi akan kekasihnya yang juga jarang memberikan kabar.

Semakin lama, teman-teman KKN yang tahu bahwa Dian telah memiliki kekasih, akhirnya berusaha memberikan nasihat pada Dian agar tidak terlalu dekat dengan Enca. Kedekatan Dian kepada Enca memang hanya sebatas teman dekat, namun berbeda dengan Enca yang memikili banyak harapan pada Dian. Karena Dian menganggap Enca hanya sebagai teman dekatnya, maka dari itu Dian tidak terlalu mendengarkan nasihat teman-temannya. Ketika waktu dua bulan di tempat KKN berakhir, Dian dan kelompoknya pulang ke kota asal dimana mereka berkuliah. Tampaknya berat sekali bagi mereka untuk meninggalkan desa itu. Di samping sudah betah, mereka pun memiliki banyak sekali kenangan bersama para warganya mulai dari Bapak, Ibu, dan anak-anak kecil yang bermain di posko.

Tak lama dari itu, Enca memberi kabar kepada kelompok KKN tersebut bahwa ia akan mengunjungi kota dimana teman-teman KKN berkuliah. Sampai kota tersebut, Enca yang berharap akan bertemu dengan Dian akhirnya harus menanggung kecewa karena ternyata dia baru mengetahui bahwa Dian sebenarnya sudah memiliki kekasih yang sudah berjalan selama empat tahun. Semua kata rindu yang akan Enca ucapkan pada Dian seketika itu luruh ditelan rasa sedih dan kecewa. Segudang amarah Enca lemparkan pada Dian. Ia menyebut bahwa Dian hanya pemberi harapan palsu dan mendekat jika hanya membutuhkan saja. Padahal hal itu sama sekali tidak pernah ada dalam benak hati Dian. Maka berakhirlah hubungan petemanan Dian dan Enca. Keharmonisan antara mahasiswa KKN dengan para pemuda pun hancur.

Ekspektasi


Di sela bermain telfon genggam, tiba-tiba ada sebuah pesan singkat masuk. Aku biarkan dan aku abaikan saja. Seorang jomblo sepertiku ini mana ada pesan masuk dari seseorang. Aku hanya menebak jika bukan dari ayah atau ibu ya paling paling dari operator yang menawarkan nada sambung. Dan yang paling menyebalkan lagi adalah jika tiba-tiba nomorku terdaftar oleh nada sambung yang otomatis memotong pulsa di hp ku. Maka dari itu aku diamkan saja pesan itu. Tapi ternyata dugaanku salah, pesan singkat yang masuk berasal dari nomor baru yang tidak aku kenal.

Assalamualaikum”Dengan segera aku jawab, mungkin ada seseorang yang memang membutuhkanku“Waalaikumsalam wr.wb. Maaf, ini siapa?”“Ini Mbak Ina. Apa kabar Lala?”
Aku tau mbak Ina adalah tetanggaku. Tapi, sebelumnya ia tidak pernah mengirimiku pesan singkat.Dengan rasa penasaran, aku balas lagi. Aku hanya takut jikalau saja ada sesuatu yang terjadi pada keluargaku di rumah. Karena saat ini aku sedang berada di perantauan.“Baik mba, mba Ina bagaimana?”“Alhamdulillah baik La, gimana La, kuliahnya sudah lulusAlhamdulillah sudah, sekarang sudah bekerja juga mba”“La, udah punya pacar belum?”Seketika aku kaget. tak pernah mba Ina bertanya sesuatu yang seperti ini, tapi aku tanggapi dulu saja dengan tenang.

Belum mbak, hehehe. Ada apa ya mbak?”“LA, mau nggak aku kenalin kamu dengan keponakanku. Dia sudah lulus S2 dan sudah bekerja menjadi dosen.”Tiba-tiba aku merasa seperti tersengat listrik. Aku yang hanya bekerja sebagai pelayan toko akan dikenalkan dengan seorang laki-laki yang lulus S2 dan bekerja sebagai dosen pula? tak lama aku menyetujuinya saja untuk dikenalkan dengannya. Aku senang sekali jika aku akan mendapatkan suami seorang dosen. Aku rasa menjadi seorang istri dosen maka akan dihormati oleh orang-orang apalagi di kampung.Sesampainya di rumah, aku menceritakan semuanya dengan ibuku. Tapi semuanya tidak seperti yang dibayangkan. Ternyata ibuku tak merestui sama sekali.

Alasanya karena beliau tidak suka dengan sifat ayahnya  itu yang menikahi beberapa wanita atau berpoligami. Tapi aku tetap tidak percaya, entah mengapa aku sangat tertarik, padahal aku belum bertemu sama sekali dengan orang itu. Yang ada diotakku hanya karena dia dosen, dosen, dan dosen. Ibuku mengatakan bahwa yang aka dikenalkan denganku sudah beberapa kali gagal menikah. Entah karena apa aku tak tahu. Beberapa hari kemudian, aku memang bertemu dan berkenalan dengan keponakan mbak Ina. Wajahnya sedikit terlihat tua, badannya atletis, namun kurang tinggi sedikit saja. Dalam otakku aku masih saja terpaku pada statusnya seorang dosen. Pasti orang ini adalah orang yang pintar dan sholeh.

Betapa senang dan beruntungnya diriku mendapatkannya. Sejenak sebelum berpisah, mbak Ina meminta aku dan dia untuk saling bertukar nomor. Kini, aku menyimpan nomornya dan dia pun begitu. Suatu malam dia menelfonku. Di hari selanjutnya pun menelfon lagi. Dia adalah tipikal orang yang tidak pemalu dan mudah bergaul. Saat berbicara di telfon pun lancar-lancar saja, tidak membuatku canggung juga. Namun, di hari sesudah dan di hari selanjutnya ia tak pernah lagi menghubungiku. Aku bertanya-tanya ada apa gerangan. Akhirnya aku bertanya pada dirinya
“Kemarin dua hari berturut-turut memberi kabar, tapi kok hari ini tidak ada kabar ya? kemana nih.

Lama sekali tidak ada balasan dan aku tertidur. Tapi, tidak ada satu jam terdengan bunyi handphoneku,“Oh maaf, yang kemarin itu aku lagi kurang kerjaan ajah”“Oh, kesepian ya? kalau seperti itu cari istri saja..hehehe”“Coba dong, carikan aku wanita yang mau diajak poligami”Seketika aku terkaget,“Apa tujuannya?”“Aku ingin membahagiakan banyak wanita. Kalau kamu mau saya poligami, ayo besok juga kita menikah”Sungguh, rasanya seperti tersengat aliran listrik. Detik itu juga aku merasa jijik dan ilfeel. Pantas saja sampai saat ini belum juga menikah, huehue. Aku tak ingin lagi bertemu apalagi berhubungan dengannya. Pupuslah harapanku menjadi istri seorang dosen. Aku kembali pada statusku sebelumnya, jomblo.