Selasa, 03 Desember 2019

Ekspektasi


Di sela bermain telfon genggam, tiba-tiba ada sebuah pesan singkat masuk. Aku biarkan dan aku abaikan saja. Seorang jomblo sepertiku ini mana ada pesan masuk dari seseorang. Aku hanya menebak jika bukan dari ayah atau ibu ya paling paling dari operator yang menawarkan nada sambung. Dan yang paling menyebalkan lagi adalah jika tiba-tiba nomorku terdaftar oleh nada sambung yang otomatis memotong pulsa di hp ku. Maka dari itu aku diamkan saja pesan itu. Tapi ternyata dugaanku salah, pesan singkat yang masuk berasal dari nomor baru yang tidak aku kenal.

Assalamualaikum”Dengan segera aku jawab, mungkin ada seseorang yang memang membutuhkanku“Waalaikumsalam wr.wb. Maaf, ini siapa?”“Ini Mbak Ina. Apa kabar Lala?”
Aku tau mbak Ina adalah tetanggaku. Tapi, sebelumnya ia tidak pernah mengirimiku pesan singkat.Dengan rasa penasaran, aku balas lagi. Aku hanya takut jikalau saja ada sesuatu yang terjadi pada keluargaku di rumah. Karena saat ini aku sedang berada di perantauan.“Baik mba, mba Ina bagaimana?”“Alhamdulillah baik La, gimana La, kuliahnya sudah lulusAlhamdulillah sudah, sekarang sudah bekerja juga mba”“La, udah punya pacar belum?”Seketika aku kaget. tak pernah mba Ina bertanya sesuatu yang seperti ini, tapi aku tanggapi dulu saja dengan tenang.

Belum mbak, hehehe. Ada apa ya mbak?”“LA, mau nggak aku kenalin kamu dengan keponakanku. Dia sudah lulus S2 dan sudah bekerja menjadi dosen.”Tiba-tiba aku merasa seperti tersengat listrik. Aku yang hanya bekerja sebagai pelayan toko akan dikenalkan dengan seorang laki-laki yang lulus S2 dan bekerja sebagai dosen pula? tak lama aku menyetujuinya saja untuk dikenalkan dengannya. Aku senang sekali jika aku akan mendapatkan suami seorang dosen. Aku rasa menjadi seorang istri dosen maka akan dihormati oleh orang-orang apalagi di kampung.Sesampainya di rumah, aku menceritakan semuanya dengan ibuku. Tapi semuanya tidak seperti yang dibayangkan. Ternyata ibuku tak merestui sama sekali.

Alasanya karena beliau tidak suka dengan sifat ayahnya  itu yang menikahi beberapa wanita atau berpoligami. Tapi aku tetap tidak percaya, entah mengapa aku sangat tertarik, padahal aku belum bertemu sama sekali dengan orang itu. Yang ada diotakku hanya karena dia dosen, dosen, dan dosen. Ibuku mengatakan bahwa yang aka dikenalkan denganku sudah beberapa kali gagal menikah. Entah karena apa aku tak tahu. Beberapa hari kemudian, aku memang bertemu dan berkenalan dengan keponakan mbak Ina. Wajahnya sedikit terlihat tua, badannya atletis, namun kurang tinggi sedikit saja. Dalam otakku aku masih saja terpaku pada statusnya seorang dosen. Pasti orang ini adalah orang yang pintar dan sholeh.

Betapa senang dan beruntungnya diriku mendapatkannya. Sejenak sebelum berpisah, mbak Ina meminta aku dan dia untuk saling bertukar nomor. Kini, aku menyimpan nomornya dan dia pun begitu. Suatu malam dia menelfonku. Di hari selanjutnya pun menelfon lagi. Dia adalah tipikal orang yang tidak pemalu dan mudah bergaul. Saat berbicara di telfon pun lancar-lancar saja, tidak membuatku canggung juga. Namun, di hari sesudah dan di hari selanjutnya ia tak pernah lagi menghubungiku. Aku bertanya-tanya ada apa gerangan. Akhirnya aku bertanya pada dirinya
“Kemarin dua hari berturut-turut memberi kabar, tapi kok hari ini tidak ada kabar ya? kemana nih.

Lama sekali tidak ada balasan dan aku tertidur. Tapi, tidak ada satu jam terdengan bunyi handphoneku,“Oh maaf, yang kemarin itu aku lagi kurang kerjaan ajah”“Oh, kesepian ya? kalau seperti itu cari istri saja..hehehe”“Coba dong, carikan aku wanita yang mau diajak poligami”Seketika aku terkaget,“Apa tujuannya?”“Aku ingin membahagiakan banyak wanita. Kalau kamu mau saya poligami, ayo besok juga kita menikah”Sungguh, rasanya seperti tersengat aliran listrik. Detik itu juga aku merasa jijik dan ilfeel. Pantas saja sampai saat ini belum juga menikah, huehue. Aku tak ingin lagi bertemu apalagi berhubungan dengannya. Pupuslah harapanku menjadi istri seorang dosen. Aku kembali pada statusku sebelumnya, jomblo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar