Selasa, 03 Desember 2019

Kau dan Aku Tak Akan Berpisah


Hari minggu adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang. Hari minggu merupakan hari sebagian orang untuk beristirahat, berekreasi, dan berkumpul bersama dengan keluarga. Tapi hari minggu kali ini adalah hari berduka bagi keluarga kecil ibu Romlah. Anak perempuan satu-satunya meninggal dunia karena jatuh dari sepeda. Wajahnya terperosok di bebatuan pinggir jalan. Darahnya terus mengalir dari gusi di mulutnya. Ibu Romlah dan suami membawa Risa ke rumah sakit. Dua hari sejak jatuh Risa tak sadarkan diri. Tisa teman bermainnya menjenguk dengan membawakan sepaket mainan bola bekel.

Malamnya di hari ketiga, Risa bangun dan meminta orang tuanya untuk memanggil Tisa. Risa mengajaknya untuk bermain bola bekel yang dibawanya. Mereka berdua bermain sampai larut malam hingga orang tua Risa memperingatinya bahwa hari sudah hampir pagi. Ketika pagi datang, keluarga Risa mengabari jika rumah sakit sudah tidak mampu lagi untuk menangani pendarahan di gusi Risa. Mereka pun segera membawanya ke rumah sakit di kota dengan ambulanPagi itu sebelum jatuh dari sepeda, Risa dan Tisa pergi berdua mengunjungi pasar. Mereka membeli sebuah jajanan pasar bernama awug.

Makanan terbuat dari tepung dan ampas kelapa. Sesudahnya, Risa dan Tisa kembali mengayuh sepeda. Risa yang mengayuh sepeda di depan dan Tisa memboncengnya dengan berdiri di belakang. Di jalan yang menurun, mereka bersiap-siap untuk berteriak lantang dengan roda sepeda yang berputar cepat di jalan turun itu. Seketika Risa melepas tangannya dari sepeda, ban bagian depan terlegincir oleh jalan yang berkerikil sehingga sepeda terjatuh dan Risa terpelanting pada tumpukan bebatuan di sisi jalan. Sementara Tisa sudah jatuh duduk sebelum Risa. Beberapa orang di sekitar berlari menolong mereka dan Risa sudah tak sadarkan diri.

Di hari jumat yang cerah, Tisa berangkat ke sekolah tanpa Risa. Sepi menyelimuti perasaannya. Berjalan melalui tempat kejadian itu, Tisa berlari tak kuat mengingatnya. Terlebih ketika Risa tak sadarkan diri dengan darah yang berkucuran dari mulutnya. Sesampainya di sekolah, ia mendengar pengumuman dari wali kelas.“Pengumuman, pengumuman. Innalillahi wa innailaihirajiun, telah meninggal murid, teman, dan sahabat kita Risa Fajarsari pada pukul 08.00 WIB di rumah sakit. Bagi guru dan murid yang akan ta’ziah. Kita bisa berangkat bersama-sama. TerimakasihSeketika Tisa berlari, ia tak menunggu kawan yang lainnya. Ia menangis tersedu-sedu mengingat Risa sahabat karibnya telah tiada.

Tisa masih tidak percaya, ia terus berlari dengan kencang menuju rumah Risa. Benar saja, dari kejauhan sudah tampak bendera putih tanda lelayu. Tangisnya semakin menjadi. Sesampainya disana ia menemui sang ibu dan memeluknya erat,“Sudah, ikhlaskan Risa ya, semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT” “Tidak bu, aku masih ingin bermain bersama Risa. Risa bilang ia akan sembuh”“Sabar ya nak..sabar”Tisa memandang haru wajah Risa yang mulai tak lemas lagi. Banyak keluarga datang untuk turut serta memandika dan mengantarkan jenazahnya. Tak ketinggalan Tisa yang turut ikut ke pemakaman.

Seminggu berlalu, Tisa masih saja teringat akan Risa. Setiap malam Tisa sering menangis dan menyebut nama Risa di dalam tidurnya. Orang tuanya khawatir, badan Tisa juga berkeringat dan panas hingga kejang-kejang dan dibawanya ke rumah sakit. Setelah diperiksa, dokter mendiagnosa Tisa yang terkena demam berdarah. Keadaannya semakin mengkhawatirkan hingga dokter tidak mampu untuk merawatnya. Tisa sama-sama dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan Risa. Sayangnya sebelum sampai di rumah sakit, Risa meninggal dunia. Tangis keluarga pun pecah. Tisa dimakamkan tepat di samping makam Risa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar