Selasa, 03 Desember 2019

Kehilangan Keduanya


Usai bel pulang sekolah berbunyi, Seni dan Azika berjalan bersama menuju tempat parkir motor. Tiba-tiba dari lorong kelas di depan mereka mendapati seorang laki-laki  berbadan tinggi keturunan cina bernama Beni berjalan menuju tempat yang sama dengan mereka. Azika menarik lengan Seni dengan tiba-tiba,“Hust, itu lho yang namanya Beni”“Yang kamu ceritain itu Az? wah cakep ya Az?”“Iya dong, aku mau banget jadi pacarnya”“Udah kenal belom kamu sama Beni?”“Belum sih, tapi aku udah dapet nomernya dari temanku”“Ya tinggal di sms aja langsung”“Aduh belum berani Sen..”

Beni, siswa baru dan tampan itu banyak sekali yang mengidolakan. Selain tampan, ia juga keren. Ketika berangkat ke sekolah, Beni membawa motor yang keren. Setiap lewat di depan gerbang sekolah, bagitu banyak siswa perempuan yang memperhatikan. Beni selalu menjadi pusat perhatian di sekolah. Azika terlalu sering memperhatikan Beni. Tapi, ia tak pernah mau mengutarakan perasaanya. Maka dari itu, Azika memberi tahu Seni tentang Beni. Namun sayang, Seni adalah seorang siswi yang tomboy dan cuek. Seni hanya fokus pada mata pelajaran di sekolah. Bahkan ia tidak pernah dekat dengan teman laki-laki.

Tapi, untuk kali ini Seni terlihat berbeda. Ia menatap Beni dengan tatapan yang tidak biasa. Tidak seperti menatap teman laki-laki yang lain. Seni mulai sering mencari-cari Beni ketika bel istirahat berbunyi. Azika sering mengajaknya duduk di depan kelas menunggu Beni lewat berjalan menuju kantin. Seni yang biasanya tidak suka duduk-duduk di depan kelas pun menjadi mau dan sering sekali akhir-akhir ini. Di rumah, Seni menjadi sering membuka facebook. Ia mencari nama Beni dan menemukannya. Ia semakin sering melihat-lihat status dan foto-foto Beni sampai akhirnya menemukan kontak nomor Beni.

Seni segera menyimpannya. Ia sangat penasaran dan ingin sekali mengiriminya pesan singkat. Seni sama sekali tidak memikirkaan perasaan Azika yang juga menyukai Beni.“Hallo, Ini bener Beni?”“Iya, siapa ni?”“Seni, anak kelas XD. Salam kenal ya”“Seni yang mana ya?”“Tadi aku udah invite facebook kamu kok, konformasi ya Ben..”“Oh iya, sipp”Setelah itu Seni mulai sering berkirim pesan tanpa sepengetahuan Azika. Mereka pun akhirnya saling kenal satu sama lain. Tiba-tiba pada jam sekolah Beni melihat Seni sedang bersama Azika dan Beni menyapa,“Hai Seni..” “Hai Ben”Azika bingung dengan yang dilihatnya, “Kok kamu kenal sama Beni sih Sen? Kenal dari mana.

Seni mulai bingung dan mencoba mengarang cerita,“Kenal di facebook kok. Kita ternyata berteman di facebook”Azika terlihat semakin bingung, ia terlihat tidak percaya. Azika cemburu pada Seni. Azika berfikir Seni akan merebut Beni yang sedang menjadi incarannya. Azika pergi meninggalkan Seni. Ia tak menyangka Seni akan mengkhianatinya.Azika mulai mencari tahu dengan langsung bertanya pada Beni dan jawabannya pun karena Seni yang meminta Beni untuk berteman di facebook. Azika semakin cemburu dan marah pada Seni. Ia tidak mau lagi bermain dengan Seni di sekolah. Seni pun mulai sibuk dengan rencananya. Mereka semakin jarang bertemu dan saling menyapa.

Setelah sebulan lamanya, karena tidak kuat menahan perasaan, Seni akhirnya mengutarakan perasaannya bahwa ia menyukai Beni dan ingin menjadi pacarnya. Namun, ternyata Beni menolak. Beni sangat menghargai Seni karena sudah berani mengutarakan perasaannya. Beni beralasan bahwa dia sudah terpikat oleh perempuan lain. Seni merasa sedih, ia kehilangan Azika dan ditolak pula oleh Beni.Seni terus mencari-cari siapa perempuan yang menjadi pacar Beni. Beni tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan di sekolah, bahkan di sosial medianya pun tidak pernah memajang foto pacarnya. Seni semakin penasaran, ia ingin mencurahkan isi hatinya kepada sahabatnya Azika, namun saat ini Azika sudah menjauhi Seni.

Akhirnya Seni pendam sendiri rasa penasaran itu hingga akhirnya Seni melihat dengan mata kepalanya sendiri. Di sebuah kafe, Beni duduk berdua dengan perempuan yang ternyata Seni juga mengenalnya. Dia adalah Azika. Dari kejauhan Seni mengawasi dan mendengarkan perbincangan di antara kedunya. Beni memegang tangan Azika sambil berkata, “Azika, maukah kamu menjadi pacarku?” Dengan malu-malu Azika menjawabnya, “Iya”. Seketika Seni cemburu, ia hanya bisa berdiam diri dan menyadari betapa jahat dirinya dulu mengkhianati Azika yang sudah memiliki perasaan lebih dulu kepada Beni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar