Selasa, 03 Desember 2019

Kona dan Koni


Setelah di phk dari pekerjaannya sebagai marketing properti, Kona dan Koni sibuk mencari pekerjaan baru, kebetulan di kota Jogja tidak begitu sulit untuk mendapatkan pekerjaan sampingan mulai dari mengikuti berbagai pekerjaan part time dan survei dari sebuah lembaga. Empat hari yang lalu, Kona dan Koni mengikuti survei untuk mensosialisasikan beberapa materi yang diberi oleh lembaga. Sepulang dari survei tersebut mereka mulai pusing kembali mencari kesibukan. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berekreasi sejenak sambil memikirkan pekerjaan apa yang kiranya pas di hati mereka, karena sebelumnya mereka berdua sudah diterima di sebuah perusahaan, namun sayangnya mereka mendapati sistem gaji yang tidak sesuai dan tekanan yang terlalu berat dari atasanya.

Kona dan Koni adalah dua sahabat yang baru saja bertemu namun seperti sudah lama mengenal. Sifat mereka juga sangat kontra, Kona yang penyabar dan Koni yang selalu mau menang sendiri. Setelah beradu pendapat akan apa yang mau dikerjakan, Kona dan Koni memutuskan untuk pergi ke rumah Nuha di Magelang. Mereka hendak melakukan rekreasi dan akan mengunjungi tempat-tepat indah yang berada di kota tersebut. Setelah setengah hari Koni menemani Kona berbelanja baju untuk Ibunya yang berada di kampung, ia mengabari Nuha teman Koni yang kebetulan tinggal di Magelang untuk menemani rekreasi di Magelang.

Setelah itu Kona dan Koni beristirahat menyiapkan tenaga untuk berangkat ke Magelang sore nanti.  Nuha pun sudah mengirimkan alamatnya via google map, perjalanan tinggal mengikuti arah yang ditunjukkan oleh goolge map saja.Sore itu Kona dan Koni mandi, bersiap-siap, dan tidak lupa menyiapkan jas hujan karena langit sedikit gelap. Mereka pun memanasi sepeda motor dan pergi dengan cuaca langit yang mendung. Jarak Jogja ke Magelang pun tidak terlalu jauh, kira-kira hanya satu setengah jam. Kona melarang Koni untuk membuka google map terlebih dahulu karena Kona sudah sedikit paham arah jalan menuju Magelang dan setidaknya untuk menghemat baterai agar bisa digunakan maksimal untuk mencari arah rumah Nuha ketika sudah sampai di Magelang.

Setibanya mereka di Magelang Kona meminta Koni untuk membuka map nya “Koni, kita udah sampe nih di Magelang, coba kamu buka google map nya”, “Ok Kona, tapi Kona, aku ga bisa baca google map”, “Yah gimana dong Koni, yaudah kamu yang di depan ajah”, “Lah kan kamu tau aku pakai rok”, “Ih Koni, kamu nyebelin sih, hiiih, yaudah mana hp nya”. Akhirnya Kona harus bekerja sendiri membawa motor dan melihat arah di google map dan ketika dilihat, perjalanan memang masih sangatlah jauh. Langit mulai gelap, adzan maghrib sudah berkumandang, namun Kona dan Koni masih dalam perjalanan yang kanan dan kiri hanya ada pepohonan bambu dan tidak ada penerangan.

Saat itu, Kona  dan Koni mulai beradu pendapat lagi. “Koni, seharusnya tadi kamu percaya sama aku, kita perginya besok pagi saja. Lihat sekarang pun kita belum juga sampai dan langit semakin gelap”, “Ah sudahlah Kona, kamu ini banyak sekali ngomongnya. Ikuti saja arah ini”, “Bukan begitu, ini sudah malam dan dari tadi sepertinya tidak ada rumah sama sekali deh di daerah sini”, “Ah udahlah terus aja, nanti juga ada rumah di depan”. Langit semakin gelap dan keadaan di sekelilingpun tidak terlihat lagi. Koni mencoba menghubungi Nuha, tapi sayang sekali di daerah tersebut memang sedikit sinyal. Nuha hanya membalas untuk memberi kabar nanti jika Kona dan Koni sudah berada di jalan utama.

Mereka berhenti sejenak di tengah jalan, yang terlihat oleh sorot lampu motor mereka hanyalah pohon-pohon yang berada di samping kanan dan kiri. “Sudahlah, ayo lanjut lagi jalan” seru Koni. Di tengah jalan, mereka mendapati seorang pemuda yang duduk di dekat jembatan. Kona dan Koni merasa lega karena akhirnya ada seseorang yang bisa ditanya, “Permisi mas, numpang tanya, kalau jalan ke arah jalan utama lewat mana ya?”. Orang tersebut tidak menjawab, namun tanggannya memberi petunjuk ke arah kiri. Di depan memang terlihat ada gang masuk ke arah kiri. Akhirnya merekapun berjalan mengikuti arahan orang tadi.

Sesungguhnya Kona tidak terlalu yakin kalau jalan yang dilalui adalah benar, namun Koni memaksa saja untuk berjalan lurus mengikuti arahan orang tadi. Kona akhirnya menyerah dan mengikuti pendapat Koni. Perjalanan tetap saja gelap dan tidak ditemukan ujungnya. Mereka pun berhenti lagi. Kona mulai marah dan meminta Koni untuk mengikuti pendapatnya kali ini saja. Akhirnya Koni diam dan Kona memutar motor untuk kembali ke jalan yang sudah dilalui dan mencari jalan lain.Setelah beberapa menit, akhirnya Kona dan Koni menemukan perumahan warga dan tibalah di jalan utama. Merekapun bertemu dengan Nuha. “Ya ampun Ha, akhirnya kita ketemu kamu lhoo” teriak Koni, namun Kona tetap saja diam.

Kona masih menahan rasa dongkolnya karena Koni yang tidak pernah mau menerima pendapatnya. Sesampainya di rumah Nuha, mereka menceritakan kejadian tersesat mereka. Setelah berbincang-bincang dengan Nuha dan orang tuanya tentang jalan mana yang dilalui. Nuha dan orang tuanya kaget, “Lho, kalian lewat jalan itu?”, “Iya bu” jawab Kona “Itu kan area pemakaman nak”. Seketika Kona dan Koni berpandangan dan masih tidak percaya. “Besok pagi kalian coba saja lewat jalan itu dan liat disitu ada apa”. Pagi-pagi sekitar jam tujuh mereka ingin membuktikan apa yang dibilang oleh Ibunya Nuha. Sesampainya disana, mereka berdua melotot melihat hamparan tanah pemakaman yang luas sekali. Koni pun merasa bersalah, akhirnya ia meminta maaf pada Kona, “Maafkan aku Kona, gara-gara aku semalam ternyata kita tersesat di pemakaman”, “Iya Koni, lagi-lagi jangan maunya menang sendiri, dengarkan juga pendapat orang lain ya” dan tiba-tiba mereka berdua ingat akan seseorang yang duduk di atas jembatan, “aaaaaaaaaaaa hantuuuuu” seketika itu mereka berteriak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar