Selasa, 03 Desember 2019

Laki-Laki Payah


Agung adalah seorang laki-laki yang ditakdirkan untuk menjadi anak kesayangan orang tuanya. Dua kakak perempuannya sudah hidup masing-masing bersama suaminya. Sebagai anak bungsu, Agung sangat disayangi oleh ayah terlebih oleh ibunya. Sang ayah yang sangat patuh kepada istrinya hanya bisa menuruti kehendak sang istri. Sang ibu selalu memanjakan Agung, ia diberikan fasilitas yang lengkap di rumahnya. Di kamarnya tersedia televisi, ac, hp, dan deretan rak buku. Agung memiliki hobi membaca komik. Waktunya setiap hari hampir habis digunakan hanya untuk membaca komik. Sang ibu selalu mendukung hobinya itu dan melarang Agung untuk bermain dengan orang satu kampungnya.

Sang ibu merasa bahwa Agung tidak pantas bermain dengan orang-orang itu. Agung hanya diperbolehkan bermain dengan teman-teman kuliahnya saja. Sang ibu menganggap orang-orang kampung itu tidak berpendidikan. Akibatnya Agung tumbuh menjadi seorang laki-laki yang kurang bisa bersosialisasi dengan sesama.Agung tidak pernah diajari bagaimana hidup mandiri. Baju sudah ada yang mencuci, rumah sudah ada yang merapihkan, makan pun harus diantar sampai ke kamarnya. Aktivitasnya di rumah hanya untuk belajar saja. Bahkan sebagai seorang anak laki-laki, Agung tidak bisa mengendarai sepeda. Kemanapun pergi Agung selalu diantar. Hidupnya tidak pernah merasa susah.

Apa yang diinginkan selalu terpenuhi. Terlebih lagi ibunya yang sangat memanjakannya. Oleh tetangga, Agung dikenal sebagai anak yang acuh dan tidak bisa bergaul dengan sesama. Hidupnya hanya dihabiskan untuk belajar, belajar, dan belajar. Suatu hari setelah kelulusannya, sang ibu berharap besar Agung mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Sang ibu berharap Agung akan menjadi seorang yang sukses berkat nilai akhir kuliahnya yang tinggi. Ia merasa akan diterima di perusahaan-perusahaan besar dengan mudah. Ia pun semangat mengirimkan banyak surat lamaran pekerjaan melalui kantor pos dan surat elektronik. Namun, semuanya di luar dugaan. Tidak ada satupun dari perusahan yang memanggilnya untuk wawancara.

Hal itu disebabkan karena dalam daftar riwayat hidupnya sama sekali tidak ada pengalaman bekerja atau mengikuti organisasi apapun. Ia merasa lelah dan berputus asa. Orang tuanya kini telah pensiun dan hanya sedikit sekali simpanan uang karena yang ada telah dipakai sang ibu untuk pergi belanja bersama teman-teman sosialitanya. Penghasilan ayahnya sudah tidak seperti sebelumnya. Sang ibu yang biasa hidup serba ada menjadi kecewa, marah, dan akhirnya pergi meninggalkan rumah. Kini Agung harus hidup berdua dengan ayahnya.Suatu ketika ada sebuah panggilan kerja dari perusahaan yang bertempat di luar kota. Agung yang tinggal di Jakarta harus pergi merantau ke Semarang.

Agung merasa bingung dan gelisah. Ia tidak berani pergi sendiri karena memang tidak pernah memiliki pengalaman bepergian sendiri. Alhasil sang ayah mengantarkannya ke Semarang. Sesampainya di sana, Agung kembali ke Jakarta dan mendapati kabar bahwa perusahaan tersebut tidak menerima dirinya sebagai karyawan. Agung kembali merasa kecewa dan tidak ingin lagi untuk mencari pekerjaan. Waktunya kembali dihabiskan membaca komik di kamar. Sang ayah yang semula bekerja di perusahaan elektronik mulai menerima panggilan-panggilan orang untuk membetulkan alat-alat elektronik yang rusak. Rumah menjadi tidak terawat. Sang ibu masih enggan untuk kembali. Kedua kakak perempuannya sibuk juga dengan keluarganya masing-masing.

Sang ayah terus bekerja sembari tak henti-hentinya memikirkan nasib anak laki-lakinya yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Umurnya semakin bertambah namun tetap seperti itu-itu saja hingga ayahnya sering merasakan pusing dan terjatuh di kamar mandi. Sang ayah menderita struk. Kakinya tidak bisa digerakkan. Beliau harus memakai kursi roda. Sang ibu tetap enggan kembali, bahkan meminta untuk bercerai. Agung yang menjadi kebanggaan ibunya itu tidak tau harus berbuat apa dan meminta tolong kepada siapa. Orang lain dan keluarga yang lain sudah enggan menolong Agung yang acuh itu. Kedua kakak perempuannya hanya bisa membantu seadanya. Agung pun benar-benar harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan sang ayah. Kini ia memiliki pekerjaan yang sesuai sebagai penjual komik bekas di pinggiran jalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar