Selasa, 03 Desember 2019

mati suri


Menjadi seorang pedagang sayur adalah pekerjaan yang sangat dekat dengan dunia ibu rumah tangga karena hampir semua pembeli sayur keliling adalah ibu-ibu. Seorang pedagang sayur harus memiliki keterampilan berbicara yang hebat, terlebih ketika bertemu denga pelanggan yang memiliki hobi tawar menawar. Didin, seorang pedagang sayur keliling dengan gerobag yang ditarik oleh sepeda motor yang berasap tebal itu biasa berjualan di depan Paud Mutiara Baru. Sasaran Didin adalah ibu-ibu yang mengantar dan menunggu anak-anaknya sampai jam sekolah selesai. Tidak sampai waktu dhuhur, anak-anak sudah diperbolehkan pulang.

Di sela waktu menunggu itu, suara Didin terdengar nyaring, “Sayuuuuuuuuurrrr, yuur sayuuuur” banyak ibu-ibu yang mulai mendekati gerobag Didin. Mereka memilih berbagai sayuran yang tersedia sambil berusaha menawar semurah-murahnya, tapi Didin dengan kekuatan berbicaranya harus berusaha apapun agar harga jualannya tetap seperti yang tawarkan. Seringkali Didin digoda oleh ibu-ibu yang akan mendoakan agar mudah dapat jodoh jika mereka mendapat potongan harga. Namun Didin tetap pada pendiriannya.

Masalahnya jika saya jual murah akibatnya penghasilan saya akan jadi sedikit dan semakin lama menabung untuk menikah, begitu ibu-ibu”“Yailah, Didin pelit amat”Didin selalu menjadi hiburan bagi ibu-ibu karena tingkah lucunya yang serigkali membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal. Terlebih karena Didin adalah bujangan tua yang belum juga menikah. Mungkin Didin takut juga jika kelak istrinya seperti para pelanggan sayurnya yang cerewet itu. Hari berikutnya Didin tidak terlihat berjualan di depan Paud Mutiara Baru. Para pelanggan setianya bertanya-tanya mengapa Didin tidak berjualan. Hari itu mereka mengeluh karena harus pergi ke pasar untuk berbelanja sayur.

Walaupun harga di tempat Didin sedikit lebih mahal, namun bagi mereka itu tidak masalah karena mereka tidak harus mendadak pergi jauh ke pasar. Selain itu, di tempat Didin mereka bisa saling bercanda menggoda, dan mengejek Didin untuk sekedar menghilangkan penat menunggu anak-anak pulang sekolah. Lima hari telah berlalu, Didin masih tidak tampak berjualan. Ibu-ibu semakin bertanya-tanya. Beberapa dari mereka berfikir Didin tidak mau lagi berjualan di tempat itu dikarenakan pelanggan yang selalu saja menawar, mengejeknya, dan kadang juga pergi meninggalkan hutang. Di tengah rumpian ibu-ibu terdengar bahwa Didin meninggal dunia namun tidak ada penjelasan meninggal karena apa.

Para pelanggan tersebut bersedih akan kepergian Didin. Ada beberapa dari mereka yang menyesal pernah mengejek Didin. Ada juga yang takut karena belum sempat membayar hutang. Mereka saling berandai-andai satu sama lain jika Didin masih hidup maka mereka tidak akan mengejek  dan akan segera membayar hutangnya.Satu minggu kemudian, di hari senin yang cerah, setelah siswa-siswa usai melaksanakan upacara bendera, ibu-ibu kembali ke warung samping paud untuk melakukan aktifitas rutinnya. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara motor Didin. Mulanya mereka kaget, namun paling hanya suara motor yang mirip saja.

Motor tersebut tiba-tiba berhenti dan terdengar keras suara, “Sayuuuuuuuuuuuuuuuuuuuurrr yuuuurr sayuuuuurrrr”. Seketika ibu-ibu kaget, berdiri, dan melihat ke arah seberang. “Didiiiiinnnnnnn” mereka semua shock akan munculnya Didin lagi. Padahal Didin sudah dikabarkan meninggal dunia. Mereka semua berlari menuju gerobak sayur milik Didin sambil penasaran dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada Didin?Didin menjelaskan bahwa dirinya mengalami mati suri. Ketika pulang berjualan, Didin merasa badannya lemas sekali. Ia tidur dilantai dengan kipas angin yang dihadapkan ke tubuhnya. Tidak lama dari itu Didin tertidur pulas dan  sulit dibangunkan oleh ibunya. Hingga waktu yang lama sekali Didin tak kunjung bangun, ibunya berteriak meminta tolong kepada tetangga.

Salah satu tetangga yang mengecek nadi dan hidungnya mengatakan bahwa Didin sudah meninggal dunia. Ibu Didin menangis sejadi-jadinya setelah tahu anak semata wayangnya dan tulang punggung keluarganya meninggal dunia. Jenazah segera diurus, namun ketika dimandikan tiba-tiba mata Didin membuka dan tangannya mengusap wajahnya sendiri. Semua keluarga sempat kaget dan lari terbirit-birit. Didin yang menggunakan selendang penutup badannya berjalan ke depan. Seketika semuanya pun terkaget dan berlarian kesana kemari. Didin menjerit dan menangis mengatakan bahwa ia masih hidup. Akhirnya semua orang percaya bahwa Didin mengalami mati suri. Selama satu minggu Didin tak keluar rumah, ia beristirahat dengan total dan kini berjualan kembali. Ibu-ibu pelanggan setia Didin segera melunasi semua hutangnya dan sama sekali tidak menawar harga ataupun mengejek Didin lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar